Ironi Pidie ke-515: Sorak Perayaan Menggema, Sementara Warga Alue Pigoe Kehilangan Tempat Mencari Nafkah

ACEH DIGITAL

- Redaksi

Minggu, 20 September 2026 - 20:51 WIB

508 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SIGLI – Gegap gempita perayaan hari jadi Pidie ke-515 dipenuhi sorak-sorai dan deretan pesta yang memanjakan mata. Namun di sela hingar-bingar itu, ada sepenggal kenyataan pahit yang layak menjadi catatan kritis: ribuan keluarga di Alue Pigoe justru kehilangan mata pencaharian saat kamp kerja mereka hangus dilahap api pada hari yang sama.

Peristiwa kebakaran hebat terjadi di kawasan bukit Alue Pigoe bertepatan dengan kemeriahan ulang tahun Pidie, Minggu (15/9). Asap tebal dan kobaran api menghapus habis harapan para buruh harian yang selama ini menyambung hidup dari tempat tersebut. Ribuan kepala keluarga—ayah, suami, anak, dan pencari nafkah—pulang dengan tangan hampa, wajah tertunduk, disambut keheningan pilu dari keluarga yang menanti di rumah.

Pertanyaannya, di mana perhatian pemerintah daerah? Bagaimana mungkin, pada hari yang diperingati penuh simbol kebesaran, ada ribuan warga yang justru menangis, kehilangan pijakan hidup, tanpa kejelasan masa depan? Apakah euforia pesta dan panggung pertunjukan bisa membungkam air mata yang jatuh di kamp pekerja?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta ini melukiskan ironi tajam. Pemerintah dan masyarakat Pidie merayakan usia yang semakin dewasa, namun apakah benar kedewasaan itu mewujud dalam kepekaan sosial? Saat satu sisi berkilauan lampu pesta, sisi lain membara oleh musibah yang luput dari kepedulian bersama.

Siapa yang harus bertanggung jawab? Rencana jangka pendek dan bantuan darurat mesti segera dijawab dengan tindakan konkrit, bukan sekadar pidato simpati yang berhenti di ruang-ruang rapat. Pemerintah wajib hadir, bukan hanya sebagai figur upacara, tapi sebagai pengayom dan pelindung rakyatnya. Harus ada evaluasi menyeluruh terkait mitigasi dan perlindungan pekerja di kawasan rawan bencana, serta jaminan keberlanjutan ekonomi bagi keluarga yang terdampak.

Kapan masyarakat Alue Pigoe akan benar-benar mendapat tempat dalam narasi besar pembangunan Pidie? Jika momentum ulang tahun ini tidak dijadikan refleksi untuk memperkuat empati dan mengutamakan keadilan sosial, maka perayaan umur hanyalah rangkaian angka tanpa makna. Kebesaran sebuah daerah tidak hanya dilihat dari besarnya perayaan, tetapi dari ketulusan merangkul semua warganya, terutama mereka yang jatuh saat yang lain berpesta.

Semoga tangisan yang membekas di Alue Pigoe hari ini menjadi peringatan keras: Pidie tidak bisa besar sendirian, Pidie hanya akan mulia jika semua anak negerinya merasa dihargai, dilindungi, dan didengarkan. Selamat ulang tahun Pidie ke-515, semoga umur panjang juga diikuti hati yang lebih peka bagi semua warganya. (*)

Berita Terkait

Kongkalikong Alat Berat di Geumpang Jadi Perhatian, Dugaan Setoran kepada Oknum Diminta Dibuktikan atau Dibantah
Aliansi Pulo Loih Minta Penegakan Hukum Setara: Dugaan Setoran Oknum Berseragam dan Tambang Cina Jadi Sorotan
Geumpang Meminta Transparansi: Jika Penertiban Adil, Mengapa Dugaan Jaringan Tambang Cina dan Asing Masih Dipertanyakan?
Geumpang Pidie Jadi Perbincangan, Warganet Pertanyakan Dugaan Setoran di Balik Aktivitas Tambang Emas Ilegal
Geumpang Bukan Sekadar Persoalan Tambang Ilegal, Ribuan Lubang dan Dugaan Merkuri Menuntut Investigasi Negara Secara Menyeluruh
Hadir untuk Masyarakat, Polres Pidie Salurkan Bantuan Air Bersih ke Gampong Dayah Beureueh

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 03:34 WIB

Puluhan Ekskavator Kepung Tambang Emas Lubuk Anas, Dugaan Setoran dan Beking Mulai Mengemuka

Rabu, 23 September 2026 - 00:48 WIB

Tambang Emas di Kluet Tengah Disebut Berlangsung Lama, Koperasi Sago Menggamat Disorot

Berita Terbaru